Aktor Intelektual Masih Bersembunyi
Aktor intelektual kasus penyerangan terhadap jamaah Admadiyah di kampung Pasir Cikeusik, Kabupaten Pandeglang Banten, Minggu (6/2), di duga masih bersembunyi. Penyerangan terhadapap jamaah Admadiyah itu sengaja dilakukan untuk menguji ketegasan pemerintah dan aparat kepolisian dalam menegakkan hukum. Dilihat dari pola penyerangan, polanya hampir sama dengan peristiwa konflik horizontal yang terjadi pada tahun 1998. Pola penyerangan ini terus terjadi dan terus berulang karena adanya pembiaran dari aparat terhadap pelaku kerusuhan-kerusuhan sebelumnya. Mereka tidak pernah dihukum kendati terindikasi melanggar HAM, tegas Direktur Eksekutif Instute of Defence Security and Peace Studies (IDSPS) Mufty Maakarim di Jakarta, Minggu (13/2).
Mufty mengingatkan pemerintah dan aparat kepolisian, peristiwa Cikeusik adanya momentum yang tepat untuk mengungkap aktor intelektual kerusuhan di tanah air ini. Bila pemerintah dan aparat berhasil mengungkap aktor intelektual penyerangan ini, kepercayaan publik kepada pemerintah dan aparat bisa pulih kembali. Mereka yang melakukan penyerangan itu hanyalah operator dilapangan. Aktor intelektual masih bersembuyi," tegas Mufty,
Tiga Ditahan. Polda Banten telah menetapkan lima tersangka dalam peristiwa penyerangan jamah Admadiyah di kampung Pasir Peuteuy Desa Umnbulan, kecamatan Cikeusijk, kabupaten Pandeglang Banten, Minggu(6/2). Tiga diantaranya telah ditahan."Tiga orang yang ditahan inisialnya U, HE, HM," kata Kepala Badan Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Boy Rafly, Minggu(13/2). Penyerangan massa terhadap jamaah Admadiyah di kampung Pasir Peuteuy Desa Umbulan, kecamatan Cikeusik, kabupaten Pandeglang Banten, itu mengakibatkan tiga orang meninggal dunia akibat dikeroyok massa.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ( HAM) memperkirakan ada " orang penting" yang merancang penyerangan jamaah Admadiyah itu. Ketua Komnas Cikeusik itu bukan insidentil by design." Itu harus dicari dan diungkap oleh polisi,"kata Ridha.Sebelumya komnas HAM menemukan tiga kejanggalan dalam insiden Cikeusik. Pertama, pihak kepolisian an parat keamanan sudah mengetahui akan ada penyerangan terhadap komunitas Admadiyah sebelum kejadian.Kedua, ada pesan pendek (SMS) yang masuk kepolisian mengenai rencana penyerangan. Ketiga, kepolisian dikabarkan sudah mengetahui jumlah massa yang akan menyerang, namun jumlah pasukan yang dikerahkan tidak seimbang dengan jumlah massa.
Sumber, KORAN JAKARTA
Edisi 949/Tahun III hari senin, 14 Februari 2011.
.